Rindu Adam Air
Adam Air sudah berhenti beroperasi dan dinyatakan pailit oleh Pengadilan. Tamat lah sudah riwayat maskapai nasional yang pernah berada di urutan nomor 3 maskapai terbesar Indonesia setelah Garuda dan Lion Air.
Setelah sekian bulan berhentinya Adam Air, ternyata banyak hal yang dirasakan “berbeda”, dan pada akhirnya banyak pihak menyesalkan bangkrutnya Adam Air dan mulai bernostalgia masa-masa indah bersama Adam Air.
Adam Air dikenal sebagai perusahaan yang mempunyai kreatifitas dan keberanian untuk bersaing. Lihat saja beberapa inovasi Adam Air, baik terkait dengan penggunaan teknologi IT dalam check in yang tidak sempat diimplementasikan secara penuh, penggunaan endorser seperti Kris Dayanti, banyaknya rute yang dilayani, kerjasama dengan para agen, kreatifitas terhadap cara pelayanan para Adams Angel, penetrasi pasar dengan banyaknya rute yang dilayani, dan tingkat ketepatan waktu yang cukup baik. Kelebihan-kelebihan Adam Air berbuah pada bagusnya tingkat load factor dan kembalinya kepercayaan penumpang walaupun Adam Air mengalami musibah beberapa kali, salahsatunya menewaskan seluruh penumpang dalam perjalanan ke Manado. Berhentinya Adam Air sebagai maskapai nomor 3 di Indonesia membuat posisi penawaran dan permintaan layanan penerbangan menjadi berubah drastis. Penumpang-penumpang yang dulu dilayani oleh Adam Air secara otomatis tumpah ke maskapai-maskapai yang ada. Tentunya hal tersebut menjadi anugerah bagi maskapai tersebut, sekaligus kesulitan bagi para penumpang, karena berkurangnya supply kursi penerbangan.
Efeknya dapat ditebak, diantaranya adalah harga tiket pesawat melonjak drastis. Penumpang sekarang kesulitan menemukan alternatif penerbangan, dan hal tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh airlines yang ada dengan cara menaikan harga tiket. Penumpang hanya geleng kepala. Dahulu, Adam Air benar-benar konsisten menawarkan tiket murah. Sekarang, hampir tidak ada lagi istilah tiket murah.
Bukan hanya terhadap penumpang, terhadap para agen perjalanan pun demikian. Agen perjalanan semakin diperlakukan semena-mena oleh Airlines; diantaranya adalah dengan cara memberikan aturan yang memberatkan seperti lebih besarnya uang jaminan pertiket, dan kecilnya fee untuk agen. Apalagi, dalam menaikan harga tiket, Airline membebankan kenaikan pada komponen fuel surcharge, bukan komponen harga jasa penerbangan, sehingga walaupun ada kenaikan harga, agen tidak mendapatkan manfaat dari kenaikan harga tersebut (fee agen dihitung dari prosentase jasa penerbangan; sedang fuel surcharge di luar jasa penerbangan).
Sebagai contoh, untuk satu tiket yang harganya sekitar 400ribu, minimal jumlah jaminan yang diberikan agen kepada Airlines adalah 600ribu. Untuk tiket seharga 400ribu, agen hanya diberi fee sebesar 7.500 rupiah.
Perlakuan Airlines terhadap agen tentu saja berimbas kepada penumpang. Mana ada agen yang mau rugi dalam berbisnis. Kompensasi terhadap kecilnya fee yang diberikan airlines kepada agen membuat agen manaikan harga tiket. Kini ada lagi komponen tambahan berupa charge yang dikenakan agen kepada penumpang. Jumlahnya sekitar 5.000-10.000 rupiah. Lagi-lagi penumpang yang harus menanggung akibatnya.
Adanya kondisi-kondisi di atas, membuat penumpang maupun agen bernostalgia. Dahulu ketika masih ada Adam Air, harga tiket Adam Air dijual relative murah, sehingga memaksa Airlines lain untuk menurunkan harga tiket. Kondisi tersebut menyenangkan penumpang sekaligus agen. Bagi penumpang harga murah berarti terjangkau dan banyak pilihan penerbangan. Sedangkan bagi Agen, semakin banyak penumpang maka semakin bagus omset yang didapatkan.
Jadi tidak salah apabila banyak penumpang dan agen mengharapkan Adam Air masih ada. Oh, aku rindu kamu, Adam Air.
